SEJARAH AWAL
PERADABAN MASYARAKAT TIMUR SAMAWA (ANO SIUP)
Sebagian besar penduduk Lunyuk adalah petani dan pedagang. Lahan pertanian sangat subur bahkan sebagian besar supply hasil bumi yang ada di kabupaten Sumbawa berasal dari Lunyuk.
Yang menarik di kecamatan Lunyuk; ada sebuah perkampungan yang terdiri dari perantauwan dari Bali yang berasal dari beberapa kabupaten di Bali. Di Lunyuk mereka sudah memiliki Pura yang sangat megah sebagaimana yang ada di Pulau Bali.
BRANG BE
Brang Be (dalam bahasa Sumbawa : brang=sungai, kali,
be= besar), adalah nama sungai yang terbesar di NTB, terletak di Kecamatan
Lunyuk, Kabupaten Sumbawa terbentang dari Utara ke Selatan bermuara di Samudra
Indonesia. Sebagai sungai yang besar terdapat banyak lubuk-lubuk yang dalam
yang di huni berbagai jenis ikan al, hiu (pakek), pari, babonga, jerjat,
serpi, arwana (kemang dangar),empa tana, ipin (sejenis teri), bung, kosar,
udang, belut (tuna), dan berbagai jenis siput (siso, jampurang, tudai,
se, sako).
Bahkan buaya banyak sekali dan sering makan korban
hewan ternak dan manusia. Di dalam yang berupa pasir dan endapan lumpur
disepanjang pinggir sungai, banyak terdapat kakulat gersik (jamur), dan
tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan sayur seperti garoso, peria, dll.
Keadaan Brang Be masa lampau seperti tersebut di atas,
kini tinggal kenangan. Akibat ulah tangan manusia yang tidak memelihara
kekayaan alam sebagai rahmat Tuhan, masyarakat Kecamatan Lunyuk sekarang
tinggal bernostalgia tentang kenyamanan masa lalu. Jika dulu mereka pemasok
berbagai jenis kekayaan alam Lunyuk ke pasar di kota, kini sebaliknya mereka
malah menjadi pembeli minyak kelapa, telur, ikan, dll dari kota.
Terlepas dari punahnya buaya dan berbagai jenis
kekayaan dalam sungai dan daratan. Juga keadaan kesejahteraan masyarakat dapat
dikatakan meningkat dibandingkan keadaan masa lampau yang didinabobokan
(dimanjakan) alam yang sangat kaya dan ramah. Dengan adanya pembangunan
irigasi teknis Dam Palara dan adanya prasarana dan sarana perhubungan, lalu
lintas ekonomi menjadi lebih lancar, prasarana dan sarana komunikasi yang
membawa keterbukaan, maka wajah Lunyuk yang diapit oleh dua buah sungai yaitu
Brang Be dan Brang Ode kini sedang berproses menuju peralihan perkotaan.
Pada zaman dulu di kawasan Brang Be ini sudah dikenal
adanya kekuasaan tradisional yang penguasanya terdiri dari “tau karong” (orang
kesatria, pendekar), berturut-turut dari wilayah Utara sampai bagian Selatan
terdapat nama-nama tau karong wilayah kekuasaannya sbb:
1.
Ali Keke
– Batutara
2.
Rembit Patih – Jelapang
3.
Jaena
– Tamalung
4.
Marece
– Be
5.
Galim
– Lunyuk
6.
Pekat
– Selam
7.
Pin
Kanga
– Bilamate
Selain tau karong (satria) tersebut di atas, juga
terdapat demung Be bernama Ahmad (Rato). Baik Ahmad (Rato) dan para tau karong
tersebut di atas, masih dapat diketahui keturunannya yang ada di lunyuk
sekarang, demikian juga bukti sejarah lainnya berupa makam-makam mereka al.
makam Rembit Patih terdapat di Jelapang, Desa Lunyuk Rea.
·
Sejarah Wilayah
Berdasarkan
asal usul turun temurun leluhur, dari keturunan kedatuan Mangan, yang mana dari
tanah hutan / hutan Adat di bagi dalam bentuk penguasaan / pengolahan dengan di
atur oleh pola pengaturan berdasarkan hukum adat - Dimana proses
pengaturannnya, tanah sawah di atur untuk pertanian menanam padi, dan tanah
kebun untuk perkebunan, keputusan ini di atur oleh hukum Adat dengan cara
bersama-sama yang adil dan merata - Tanah yang keramat atau yang di kramatkan
tidak boleh di ganggu gugat - Membuka ladang atau yang biasa di ssebut
komunitas marau adalah sistem penebangan pohon dengan menggunakan kapak atau
batek ( parang ) hal ini lebih kepada pohon yang kecil.
·
Sejarah Komunitas
SEJARAH SINGKAT KOMUNITAS MASYARAKAT
ADAT LUNYUK
Ringkas
sejarah Seperti apa yang telah di kemukakan dalam buku sejarah sumbawa yang di
tuliskan oleh Lalu Maca pada tahun 1984” Sumbawa pada masa lampau” sajian buku
ini banyak menceritakan tentang penduduk lama atau kerajaan-kerajaan kecil yang
ada di Sumbawa , seperti di bagian lembaran tengah buku menceritakan tentang
penduduk sumbawa yang paling tua. Ks Viah sejarah menceritakan bahwa penduduk
yang paling tua ada di bagian pantai selatan Sumbawa, pantai selatan yang di
maksut adalah Selesek ( Dewa Datu Awan Maskuning ) Cek Bocek Selesek Ren Suri
atau Suku Berco saat ini, Granta Tanganam, Nangka Lanung, Pekasa dan komunitas
alinnya Kedatangan Datu Mangan Di Wilayah Seklatan Sumbawa Datu mangan
bedasarkan saksi sejarah hidup msyarakat geranta di emang bahwa rombongan Datu
Mangan datang ke pulau Sumbawa dengan menggunakan perahu layar bangka kapal,
yang berlayar dari kerajaan goa pada sekitar abad ke 14 atau sekitar tahun
1499.
Rombongan
Datu mangan ini berjumlah 40-orang, di dalam bangka tersebut bercampur aduk
kepercayaan ada yang beragama Islam dan Hindu Datu mangan ini mendarat di
pantai momil bagian selatan Kecamatan
Lunyuk sekarang ini. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan menyisir
wilayah pantai, menginappun di pasir pantai. Wilayah Geranta yang posisi masih
menjadi hutan yang lebat, Datu Mangan bersama rombongannya mencoba untuk
menyisir ke wilayah pegunungan yakni memilih Geranta sebagai tempat tinggal
mereka. Geranta ini pada awalnya sudah ada penduduk yakni bangsa manusia
kanibal yang tidak mengerti atau paham Agama hanya percaya kepada apa yang di
anggap memilik kelebihan gaib, ada yang menyembah batu , pohon, angin, air atau
binatang lainnya, istilah bahasa Granta ini adalah Goran Talo artinya dari
bangsa perampok yang mengasingkan diri untuk sifat sementara, selanjutnya
dikatakan “Goran Talo” mengalami kekalahan atas perlawanan Perlawanan Datu
Mangan Dengan Geranta/Goran Talo Dengan taktik perang dan perlawanan yang di
lakukan oelh rombongan Datu Mangan dibawah kepemimpinan Datu Mangan sendiri,
akhirnya Geranta ini di lakukan untuk di kuasai dan apabila dari goran tersebut
tidak mau pindah atau pilihan untuk bersatu maka pilihan ternatif adalah
dibunuh.
Dan
pada akhirnya penduduk kecil Geranta ini atau Goran Talo ini di ajak bersatu
bagi yang mau bersatu dan yang tidak akan di usir bahkan dibunuh oleh rombongan
Datu Mangan Setelah beberapa tahun kemudian Datu Mangan membentuk pemerintahan
secara hukum Adat, nama kepemerintahannya adalah Palanung Adat. Palanung Adat
ini sama dengan istilah sekarang adalah kepala Adat yang sebagai pemegang
kendali kekuasaan tertinggi. Penguasaan wilyahpun di kembangkanlah untuk
membentuk persawahan secara perladangan, seperti Sampar goal, Lenang peleler,
Sampak Lok, Tiu dali, Alot Batu gantis, erat inyir, erat katujir, orong
telaga,kuan sea, ruak batu anar, ruak batu adang, batu talat,malau, balengkong,
orong tebit, orong sepang, unter panuja, sampar bontonh, tiu baru, berang sisi,
dan daerah-daerah lain wilayah kekuasaan Geranta dibawah kepemimpinan Datu
Mangan ini kurang lebih 20.000 Ha yang di tandai secara hukum adat. Pada Tahun
1500-an Tahta Adat Mulai Dibangun Tahta adat mulai di bangun dan membentuk
kelembagaan Adat pemerintahan Adat sendiri dengan diberikan nama “Padring Adat”
kekuasaan dibawah pemerintahan Adat, Hukum adat mulai berjalan konsep
kewilayahan mulai ditata dan di bangun rapi. Semua wilayah Goran tersebut
ditata rapi kembali dan mulai pula untuk membangun perumahan, perkebunan,
perladangan yang walaupun sistem berpindah-pindah. Padring Adat mulai
dijalankan dan di terapkan sebagai dasar hukum sehari hari, pengembangan agama
hindu mulai di tanam di warga adatnya. Datu Mangan yang beritri demi dan
anaknya yang bernama “Buang” Buang ini adalah anak pertama Datu Mangan Yang
sangat di manjakan, namun mempunyai kelebihan yaitu sudah tertanam dari kecil
cerdik cerdas dan pandai memutuskan perkara.
Akan
tetapi memiliki sifat yang bandel tidak mau mengikuti ajaran bapaknya, lalu di
buang ke pulau Lombok sampai di pulau Lombok mulailah belajar agama Islam.
Buang pada saat dia berumur 20-an tahun sudah pandai mengaji dan mengamalkan
ayat alqur’an, akhirnya beberapa tahun ia di lombok kemudian pulang ke Geranta
untuk mengembangkan Agama Islam, agama Islam di upayakan untuk di tinggalkan
perjuangan Buang pun berhasil, seluruh masyarakat Granta memeluk Agama Islam.
Kepmimpinan buang di geranta tahun 1580-1788 Kepemimpinan Buang cukup lama,
karena disini terjadi dualisme kepemimpinan petama memimpin dengan menggunakan
sistem keagamaan ke Islaman dan kedua menggunakan sitem Hukum Adat palanung
dibawah padring Adat. Di saat bersamaan waktu Buang ini, sering keluar
mengelilingi Nusantara untuk memperdalam kembali ilmu keagamaannya, sehingga
untuk melanjutkan ajaran Islam dan menerapkan hukum Adatnya adalah dibawah
Padring Bonong. Dinamakan Bonong karena akalnya, sering suka bohong dan
mengakali para anak cucu Adatnya, permainan anak-anak lahir dan tercipta oleh
Bonong ini.
Bonong
dan buang kurang lebih 208 tahun, kemudian Buang Wafat pada umur 75 tahun Buang
memimpin dengan mengembangkan konsep Islam menanamkan ahlak dan akidah. Karna
pada prinsipnya Agama sebagai pondasi dasar dalam hidup. Buang mengatakan ini
adalah hakekat hidup adalah sesungguhnya di akhirat kelak pembelajaran Agama
Islam mulai pelan-pelan di terapkan degan membuka pendidikan Al Qur’an. Dimasa
inilah perkembangan Islam di wilayah Geranta, Tanganan, Pekasa dam sekitarnya.
Di tambah dengan pengaruh kekuatan ke Islaman Raja Qurain dari Pekasa, semakin
lama semakin padat penduduknya dan berdatangan pula dari daerah-daerah lain
Dimasa Kepemimpinan Kerong Kerong mewarisi kekuasaan Adat di mulai dari tahun
1788-1805, Kerong ini dinamakan Kerong karena orangnya keras dan beringas yang
sangat di takutkan pleh penduduk Adat Geranta dan sekitar lainnya, kekuatan
gaya dan pola kepemimpinan yang sangat beda, masing-masing memiliki gaya
tersendiri .
Dalam
masa kepemimpinannya Kerong berusia ±75 tahun. Tahun 1840-1875 Kepemimpinan
Badong Kepemimpinan dari keturunan ke-4 ( empat ) Datu Mangan ini , adalah
mengembangkan kepemimpinan dengan sistem penciptaan pengembangan ekonomi,
wilayah-wilayah kekuasaan Geranta itu di ciptakan untuk kesejahteraan konsep
kemandirian, banyak tantangan dan cobaan karena konsep kegiatan ekonomi
perdagangan dan sistem bartener mulai di coba, istilah geranta “Lalo Badea”
karena Geranta ini terkenal dengan hasil hutan yang cukup banyak seperti
Kemiri, kelapa, nangka, mangga dan hasil alam lainnya, silih berganti
berdatangan para pedagang-pedagangan lainnya Bandu memerintah adat 1815-1875
Menurut riwayat para tau lokak adat kami. Bahwa kisah umur Bandu ini sampai 74
tahun, dimasa inilah pengaruh-pengaruh kerajan-kerajaan dan kedatuan. kalangan
kebangsawan berdatang untuk mencari dan pertukaran budaya, bahkan ceritanya
pengaruh-pengaruh compeni pun datang. Manca Kepala Adat dari tahun 1931 –
sekarang ini Manca yang saat ini berumur 80 tahun yang lahir pada tahun 1931 di
Geranta, dimasa papen manca, banyak terjadi bergejolak dan pengaruh-pengaruh
kekuasaan maupun raja-raja kecil di nusantara semakin padat, sehingga
kekukasaan-kekuasaan kerajaan lain yang mencoba untuk mempersatukan wilayah
Geranta dengan Kerajaan lainnya. Namun Papen manca tetap tidak mau, masih di
ingat dalam benaknya di saat disaat berumur 8 tahun perjalanan pemindahan
paksapun di lakukan. Pepen Manca mengikti gerak-gerak dan pada ayahnya dan
keluarganya agar tidak terjadi pertumpahan darah maka pemindahanpun terlaksana.
Maka masyarakat adat yang ada di Geranta dipindahkan ke Emang, namun secara
asal usul turun tenurun tetap menguasai wilayah Geranta.
Selanjutnya
membentuk perkampungan baru di Emang yang di tempatkan sekarang menjadim induk
komunitas Geranta, waktu itu posisi Emang masih menghutan, kemerdekaan 1945 di
nikmati di Emang. Mustafa Bin Manca, adalah anak dari Papen Manca, yang
merupakan keturunan asli Geranta yang mewarisi hak ulayat ( Iar lamat Geranta )
saat ini, yang secara turun temurun Adat istiadat yang sebelumnya menjadi hak
ulayat sampai sekarang ini dikuasai oleh keturunan asli Geranta. Tetap dalam
konteks adat istiadat di jalankan untuk kehidupan sehari-hari Saksi hidup
sejarah ; Papen Sila/Stengon, Papen H sadik, Papen Ibo, H.Tarau dan
lain-lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar